Perusahaan Umum Daerah

Kerthi Bali Santhi

Tari Legong: Sejarah, Perkembangan, Makna, dan Alat Musik Pengiringnya

Tari Legong

KOMPAS.com – Bali tidak hanya dikenal dengan keindahan alamnya, tetapi juga dikenal kaya akan kebudayaan eksotisnya. Sebut saja, Tari Legong, tarian tradisional khas Bali. Tarian ini mencerminkan keanggunan, keelokan, dan kelihaian para penarinya.

Tari Legong merupakan tarian klasik Bali yang memiliki perbendaharaan gerak sangat rumit dan terikat dengan musik pengiringnya. Kata legong berasal dari kata “leg”, artinya gerak tari yang luwes atau lentur. Sedangkan “gong” berarti gamelan. Dengan demikian, “legong” berarti gerak tari dengan gamelan sebagai pengiringnya. Gamelan yang digunakan untuk mengiringi tari legong dinamakan Gamelan Semar Pagulingan.

Tari Legong biasanya dibawakan oleh dua orang gadis yang belum menstruasi. Tarian ini dilakukan di bawah sinar bulan purnama di halaman keraton. Kedua penarinya dinamakan legong. Para penari biasanya dilengkapi dengan kipas sebagai alat bantu. Dalam beberapa tari legong, ada seorang penari tambahan yang tidak menggunakan kipas, penari ini disebut condong.

Dikutip dari jurnal Sejarah Tari Legong Legong di Bali (2011) karya Ida Bagus Surya Peredantha, menurut Babad Dalem Sukawati, tari legong tercipta berdasarkan mimpi dari I Dewa Agung Made Karna, Raja Sukawati yang bertakhta dari 1775 hingga 1825 Masehi. Saat sedang melakukan tapa di Pura Jogan Agung, Desa Ketewel, Wilayah Sukawati, ia bermimpi melihat bidadari yang sedang menari di surga. Mereka menari dengan hiasan kepala yang terbuat dari emas. Ketika sadar dari semadinya, ia segera menitahkan Bendesa Ketewel untuk membuat beberapa topeng dengan wajah yang tampak dalam mimpinya tersebut. Ia juga memerintahkan agar membuatkan tarian yang mirip dengan mimpinya. Kemudian Bendesa Ketewel menyelesaikan sembilan buah topeng sakral, sesuai permintaan I Dewa Agung Made Karna. Pertunjukan Tari Sang Hyang Legong pun dipentaskan di Pura Jogan Agung oleh dua penari perempuan. Tak lama setelah Tari Sang Hyang Legong tercipta, sebuah grup pertunjukan tari Nandir dari Blahbatuh yang dipimpin I Gusti Ngurah Jelantik, melakukan pementasan yang disaksikan Raja I Dewa Agung Manggis, Raja Gianyar kala itu. Ia sangat tertarik dengan tarian yang memiliki gaya mirip Tari Sang Hyang Legong ini. Kemudian ia menitahkan dua orang seniman dari Sukawati untuk menata kembali tarian tersebut dengan dua orang wanita sebagai penarinya. Sejak itulah tercipta tari legong klasik yang bisa disaksikan hingga saat ini.

Perkembangan tari legong Awalnya tarian ini dipentaskan dengan tujuan menghibur para raja dan leluhur yang turun dari kayangan, termasuk arwah raja terdahulu. Seiring perkembangannya, tari legong mulai berkembang di Desa Peliatan, sebuah perkampungan seni di Ubud, Kabupaten Gianyar. Tari legong yang kerap dipentaskan untuk menghibur raja dan keluarganya, kini sering dipentaskan dalam pertunjukan wisata. Tari ini memiliki daya tarik tersendiri, dan digemari wisatawan mancanegara maupun Nusantara. Sekarang, tari legong menjadi primadona dari berbagai jenis tarian Bali, dan menjadi salah satu yang paling unik dalam khazanah tarian tradisional Indonesia.

Tari legong merupakan hasil paduan beberapa nilai yang dipegang masyarakat Bali, yakni nilai agama dan sejarah dalam budaya Bali. Gerakan tariannya sangat merepresentasikan wujud ungkapan rasa syukur dan terima kasih masyarakat Bali, kepada nenek moyang yang memberi keberkahan melimpah bagi keturunannya. Saat ini, tari legong telah bertransformasi menjadi tarian hiburan yang dipentaskan untuk penyambutan tamu, sehingga menjadi daya tarik wisatawan.

Awalnya, tari legong diiringi Gamelan Pelegongan. Perangkat gamelan ini terdiri dari dua pasang gender rambat, gangsa jongkok, sebuah gong, kemong, kempluk, klenang, sepasang kendang krumpungan, suling, rebab, jublag, jegog, dan gentorang. Sebagai tambahan, ada seorang juru tandak untuk mempertegas karakter maupun sebagai narator cerita melalui tembang. Namun, seiring populernya gamelan gong kebyar di Bali, akhirnya tari legong pun bisa diiringi gamelan gong kebyar, karena tingkat fleksibilitasnya.

Sumber: Tari Legong: Sejarah, Perkembangan, Makna, dan Alat Musik Pengiringnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *