Misi Pewartaan OMK Rayon Kulon Progo Melalui Festival Kesenian Tradisional

Twitter
WhatsApp
Email

Sejak sepuluh tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 2009 OMK Rayon Kulon Progo memulai misi pewartaan melalui kegiatan Festival Kesenian Tradisional. Jika dilihat dari tahun awal penyelengaraan, FKT sudah sepuluh kali diselenggarakan dan pada tahun 2019 ini akan memasuki penyelengaraan yang kesebelas. Orang Muda Katolik (OMK) Rayon Kulon Progo secara konsisten memilih jalur seni tradisional sebagai manifestasi pewartaan (misioner) kepada umat gereja dan masyarakat pada umumnya. Pemilihan jalur seni dan tradisi menjadi sebuah misi pewartaan berdasarkan pada alasan bahwa

  1. kesenian yang akrab dengan kehidupan sehari-hari,
  2. kesenian yang tidak mengenal batasan,
  3. kesenian sebagai hiburan, dan
  4. kesenian sebagai media pendidikan.

Konsep dari kegiatan FKT ini adalah festival dengan melibatkan beberapa penampil dari paroki, stasi, hingga wilayah yang ada di Kabupaten Kulon Progo, penampilan dari pihak akademisi (sekolah dan perguruan tinggi), penampilan paroki tamu (diluar Kulon Progo), serta penampilan dari kesenian lokal yang berada di sekitar lokasi penyelenggaraan FKT. Selain itu, hal yang mendasari adanya FKT adalah dapat digunakan sebagai media pertemuan antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, serta kelompok dengan kelompok baik dari kalangan OMK Rayon Kulon Progo atau pun masyarakat umum.

Tahun 2019 ini penyelenggaraan FKT memasuki usia yang ke 11 serta menjadi tonggak sejarah baru bahwa FKT mampu bertahan selama lebih dari satu dasawarsa. Pada penyelenggaran yang ke 11 panitia FKT mengusung konsep baru yakni dengan mengembalikan FKT pada pemaknaan festival yang sesungguhnya. Cara penyampaian pewartaan dimanifestasikan dalam rumusan tema-tema yang diangkat setiap tahunnya berdasarkan representasi dari isu-isu sosial, lingkungan, kemanusiaan, kesejahteraan umum, dan sebagainya. Untuk menandai misi pewartaan di tahun ini FKT mengusung tema “Niti Laku Kabudayan Minangka Prasasti”, dengan alasan utama FKT bisa dipahami sebagai sejarah. Tema ini memiliki 3 pemaknaan secara khusus, yakni yang pertama FKT sebagai peristiwa yang ditandai dengan adanya pelaksanaan event FKT yang berjalan selama 10 kali. Kemudian yang kedua, pemaknaan khusus yakni FKT dianggap sebagai tempat dimana event FKT ini selalu berlangsung di tempat yang berbeda sehingga meninggalkan kesan tersendiri bagi tempat yang menjadi tuan rumah FKT saat itu. Terakhir, FKT dianggap sebagai benda yang menumbuhkan gerakan kesenian dari masing-masing kontingen sekaligus dalam upaya mendorong kesejahteraan umum yang bermula dari kebutuhan tiap kontingen.

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa beberapa tahun belakangan ini, warisan kebudayaan di Indonesia mulai luntur. Para kaum muda khususnya generasi milenial mulai enggan untuk menunjukan identitas kebudayaannya terutama pada laman media sosial, dengan anggapan bahwa kebudayaan yang mereka miliki itu kuno dan tidak bisa menyesuaikan dengan perubahan zaman saat ini. Lebih dari itu isu kebudayaan sering kali menjadi pemisah kerukunan bangsa karena banyak kasus pertikaian yang terjadi pada kaum muda pada latar belakang kebudayaan yang sama. Hal tersebut diperoleh dari minimnya pengetahuan mereka terhadap sejarah kehidupan mereka. Bahkan beberapa kebudayaan milik Indonesia mulai diakui oleh negara asing karena mereka merasa berkuasa atasnya ditandai dengan tingginya intensitas penggunaan di negara tersebut.

Festival Kesenian Tradisional 11 akan dilaksanakan di Paroki Santa Maria Bunda Penasihat Baik Wates pada tanggal 8 September 2019 mulai pukul 09.00 WIB sampai dengan pukul 17.00 WIB. Lokasi yang dipilih sebagai tempat penyelenggaraan FKT 11 adalah di Lapangan Desa Pengasih, Kecamatan Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Paroki Santa Maria Bunda Penasihat Baik Wates mendapatkan kehormatan menjadi tuan rumah FKT yang memasuki tahun ke 11 ini. Memang dalam setiap penyelenggaraannya FKT menggunakan sistem rollingdari paroki ke paroki, hingga ke stasi dan wilayah.

Festival Kesenian Tradisional 11 akan melibatkan tampilan dari beberapa kontingen dari paroki, stasi, akademisi, dan komunitas yang dapat dirinci sebagai berikut :

  1. Paroki St. Liseux Boro,
  2. Paroki St. Maria Tak Bernoda Nanggulan,
  3. Paroki Bunda Penasihat Baik Wates,
  4. Paroki Administratif Maria Mater DeiBonoharjo,
  5. TK Indriyasana Sedayu
  6. Shinta Art
  7. Sloka (Sholawatan Katolik) Sudimoro
  8. Sanggar Tajak Betakong (Ketapang Kalbar)

Setiap kontingen akan menampilkan berbagai macam kesenian tradisional yang menjadi ciri khas kedaerahannya masing-masing. Berbagai macam tampilan yang memuat unsur ciri khas kedaerahan tersebut dapat berupa tarian, musik, nyanyian, dan teater rakyat atau kethoprak. Untuk mengekspresikan setiap kesenian tradisionalnya, setiap kontingen diberi kesempatan tampil dengan durasi 30 sampai 45 menit.