• Opini
  • Menakar Ambisi Manusia dalam Menjelajahi Ruang Angkasa

Menakar Ambisi Manusia dalam Menjelajahi Ruang Angkasa

Biaya penjelajahan antariksa akan makin besar seiring dengan berkembangnya teknologi yang dapat memfasilitasi manusia menjelajah ruang angkasa. Layakkah?

Irvan Elmahendra

Mahasiswa Teknik Mekatronika Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung

Gambar diambil pada hari pertama misi Artemis I oleh kamera di ujung salah satu panel surya Orion oleh pesawat ruang angkasa yang tengah berada 57 ribu mil dari Bumi. (Foto: images.nasa.gov)

2 Februari 2023


BandungBergerak.id – Seiring berkembangnya zaman, ilmu-ilmu dasar yang ditemukan oleh para ilmuwan di masa lalu seperti Newton dan Einstein perlahan-lahan diterapkan sehingga banyak teknologi-teknologi baru yang bermunculan di berbagai belahan dunia. Salah satu temuan manusia yang paling mengagumkan di abad ke-21 ini adalah teknologi-teknologi eksplorasi ruang angkasa seperti roket, satelit, dan robot penjelajah planet.

Rasa penasaran dan keinginan untuk menjelajah dunia baru yang belum diketahui memang sejatinya adalah sifat dasar manusia yang juga dilakukan oleh nenek moyang kita dalam menjelajah bumi, hanya saja pada zaman modern ini manusia melakukannya dengan skala yang jauh lebih besar yaitu tata surya. Eksplorasi ruang angkasa membantu menjawab pertanyaan mendasar mengenai tempat kita di alam semesta dan sejarah tata surya kita, serta memungkinkan untuk dilakukannya berbagai macam eksperimen dan penelitian ilmiah yang dapat memajukan umat manusia.

Perubahan iklim juga menjadi salah satu faktor pendorong manusia untuk mencari habitat lain yang dapat disinggahi ketika bumi sudah tidak layak untuk dihuni. Meskipun eksplorasi ruang angkasa memiliki banyak manfaat dan bertujuan mulia, tidak sedikit masyarakat yang tidak sepemikiran dengan dijalankannya program eksplorasi ruang angkasa dengan mempertanyakan prioritas yang harus diutamakan oleh umat manusia saat ini.

Pada tahun 2020 lalu, Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat atau NASA berhasil meluncurkan robot penjelajah planet mars yang mengeluarkan biaya sebesar 2,7 miliar Dolar AS. Dan pada tahun 2021, China berhasil meluncurkan modul inti dari stasiun ruang angkasa pribadi mereka bernama “Tiangong” dengan biaya 8 miliar Dolar AS yang membuat China menjadi negara kedua yang memiliki stasiun ruang angkasa pribadi setelah Rusia. Walau proyek-proyek tersebut sudah sangat terlihat mahal, Amerika Serikat dengan “Space Shuttle Program” yang berjalan pada tahun 1977-2011 tetap menjadi program eksplorasi ruang angkasa dengan biaya terbesar yaitu 209 miliar Dolar AS.

Seiring dengan berkembangnya teknologi yang dapat memfasilitasi manusia dalam menjelajah ruang angkasa, nilai uang yang akan dikeluarkan juga akan semakin banyak dan ambisi manusia dalam menjelajah ruang angkasa pun akan semakin meningkat. Jumlah uang yang dikeluarkan untuk mengembangkan proyek - proyek tersebut tidaklah berjumlah sedikit sehingga mencuri perhatian masyarakat dan menimbulkan berbagai pendapat dan pandangan.

Baca Juga: Tanda Bahaya Penanganan Gangguan Kesehatan Mental di Indonesia
Memanfaatkan Omnichannel untuk Keberlangsungan Bisnis di Era Digital
Menimbang Mars Sebagai Tempat Tinggal Baru Manusia

Argumen Kontra Penjelajahan Ruang Angkasa

Sebagian orang berpendapat bahwa pengembangan penjelajahan ruang angkasa menghambur-hamburkan uang, sedangkan kondisi bumi saat ini belum memadai. Menurut United Nation melalui “Global Multidimensional Poverty Index” menyatakan bahwa 1,2 miliar penduduk bumi ini mengalami kemiskinan, dengan 593 jutanya adalah anak di bawah umur 18 tahun. Sebanyak 828 juta orang tidur dalam keadaan lapar setiap harinya.

Sejak 2019, Jumlah manusia yang menghadapi kerawanan pangan akut telah melonjak dari 135 juta menjadi 345 juta. Sekitar 8,9 persen populasi dunia mengalami kekurangan gizi, yang berarti mereka memiliki asupan kalori di bawah kebutuhan energi minimum. Berbagai macam permasalahan dunia tersebut adalah salah satu alasan dari beberapa masyarakat menentang proyek-proyek penjelajahan ruang angkasa.

Seorang jurnalis dan profesor di University of Illinois, Deirdre Nansen McCloskey melontarkan sebuah argumen menarik pada perdebatan mengenai penjelajahan ruang angkasa  dengan jurnalis Marcus Chown. McCloskey menganalogikan bahwa “A bridge to nowhere is a worse use of resources than a bridge to somewhere”. Menurutnya, masyarakat tidak seharusnya membayar pajak yang nantinya akan dialokasikan pada proyek-proyek penjelajahan ruang angkasa. Menurut McCloskey, dalam keadaan sains dan perteknikan saat ini masih sangat prematur untuk mengirim roket ke luar angkasa atau bahkan mengirim manusia dalam misi eksplorasi.

Perbandingan Alokasi Dana Sektor Antariksa

Argumen-argumen kontra dari penjelajahan ruang angkasa cenderung mengarah pada permasalahan ekonomi. Memang terbukti bahwa penjelajahan ruang angkasa memakan biaya yang sangat besar. Sejak tahun 1998 hingga 2021, anggaran yang diterima oleh NASA berkembang lebih dari 98%. Namun, jika dilihat dari perspektif yang lebih luas, pengeluaran biaya untuk pengembangan dan pembangunan proyek penjelajahan luar angkasa masih sangat kecil dibandingkan dengan sektor-sektor lain seperti pertahanan, pendidikan, dan kesehatan.

Sebagai contoh, anggaran pemerintah Amerika Serikat pada tahun 2021 dapat dijadikan sebagai contoh sebab negara tersebut adalah salah satu negara dengan teknologi penjelajah luar angkasa yang terdepan. Menurut dokumen anggaran pemerintah Amerika Serikat tahun 2021 yang dirilis langsung oleh “Office of Management and Budget” menyebutkan NASA hanya menerima 0,5% dari total anggaran pemerintah yaitu 4,8 triliun Dolar AS. Angka tersebut relatif lebih kecil dibandingkan dengan sektor-sektor lain seperti Departemen Pertahanan yang menerima 13% dari total anggaran, dan Departemen Kesehatan yang menerima 20% dari total anggaran pemerintah Amerika Serikat. Data-data tersebut menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil dari uang yang dimiliki oleh Amerika Serikat dialokasikan pada lembaga yang menjalankan penjelajahan ruang angkasa.

Berdasarkan pandangan saya sendiri, penjelajahan ruang angkasa bukanlah hal yang merusak ataupun merugikan pihak manapun. Penjelajahan ruang angkasa membawa banyak manfaat bagi kemanusiaan sehingga pengembangan pada sektor ini sangat penting untuk dilakukan dan bahkan dapat lebih diperkuat.

Pada saat ini pun NASA telah berhasil menciptakan terobosan-terobosan yang luar biasa hanya dengan anggaran 0,5% dari total anggaran pemerintah Amerika Serikat sehingga dampak yang signifikan dapat diharapkan dengan memperkuat anggaran tersebut. Tidak sedikit teknologi-teknologi yang umum digunakan pada saat ini berasal dari penemuan-penemuan sektor antariksa seperti LASIK, lensa anti gores, sel surya, metode freeze drying, dan masih banyak lagi. Teknologi-teknologi tersebut merupakan temuan yang awalnya digunakan untuk kepentingan program antariksa yang dikembangkan kembali sehingga dapat membawa manfaat kepada masyarakat umum.

Dengan diperkuatnya sektor antariksa dan penjelajahan luar angkasa, umat manusia dapat menikmati manfaat tidak langsung dari sektor tersebut. Manfaat langsung dari proyek-proyek yang kini sedang berjalan mungkin belum terlalu signifikan untuk membantu umat manusia. Untuk mengubah Mars menjadi planet layak huni, atau menemukan planet baru yang dapat disinggahi manusia ketika bumi sudah tidak layak masih membutuhkan waktu yang lama. Namun, untuk mencapai tujuan yang besar, diperlukan progres atau “checkpoint” yang dilakukan secara bertahap.

Dapat dimungkinkan terjadinya kesalahpahaman di antara masyarakat yang berpendapat bahwa program penjelajahan ruang angkasa adalah program yang menghambur-hamburkan uang karena sekilas, nilai uang yang dikeluarkan untuk mengembangkan program ini sangat besar. Selain itu, dapat terjadi kesalahpahaman bahwa dengan dilakukannya penjelajahan ruang angkasa, uang yang dikeluarkan dapat mengganggu sektor-sektor lain dan permasalahan dunia lainnya seperti kemiskinan dan kekurangan gizi. Pada kenyataannya, tentu hal-hal tersebut dapat diatasi dan dilakukan secara bersamaan tanpa mengganggu sektor atau pihak satu sama lain.

Edukasi mengenai sektor antariksa perlu diperkuat sehingga dapat meningkatkan pemahaman masyarakat, dan mengikat minat para generasi muda. Tanpa adanya minat dari generasi muda dalam bidang ini akan menyebabkan lambatnya perkembangan teknologi dan terancamnya kehidupan umat manusia.

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//